Aesthetic-Poetic Translation
This poem is cited from the book “Rimbun
Dahan” selected poems by Cecep Syamsul Hari. This is a kind of bilingual
edition poem book (English-Indonesia)
English
At the Market
By Cecep Syamsul Hari
In a burning afternoon
A group of labors returned to their
Javanese
They grumbled about rupiahs that getting
weak
Police patrol and land overseas to be
subjected
Detained passport and a bit of ringgits
left in the pocket
Why the cheap bus to Kajang
Never come up?
Don’t talk about love with us
It just belongs to the poetry
Don’t push us to the Indonesian embassy
They don’t belongs to the labors
Don’t remind us about prohibitions
In a country that forbid immoral manners
Why the cheap bus to Kajang
Never come up?
But live is not only a story of wickedness
Nor the painting exhibition of sorrow
Live is also a promising prosperity in the
line of Utopia
And we come to grasp it
In a burning afternoon
A group of labors returned to their
Javanese
In the three ringgits bus to Kajang
I returned back without knowing to what
Nor to whom
Translation:
Di Pasar Seni
Oleh: Cecep Syamsul Hari
Pada sebuah siang yang membara
Sekelompok pekerja pulang ke bahasa Jawa
Mereka mengeluhkan rupiah yang melemah
Patroli polisi dan tanah rantau yang mesti
diakali
Paspor yang ditahan dan sisa ringgit di
pundi-pundi
Kenapa bis murah ke Kajangtak kunjung
datang?
Jangan bicara cinta dengan kami
Itu cuma milik puisi
Jangan suruh kami pergi ke kedutaan
Indonesia
Mereka bukan milik kaum pekerja
Jangan ingatkan kami akan larangan-larangan
Di negeri yang melarang berlaku sumbang
Kenapa bis murah ke Kajangtak kunjung
datang?
Tetapi hidup tidak hanya kisah kekerasan
Atau pameran lukisan kesedihanHidup
Tetapi juga janji kemakmuran di garis
Utopia
Dan kami datang untuk mengejarnya
Pada sebuah siang yang membara
Sekelompok pekerja pulang ke bahasa Jawa
Di dalam bis tiga ringgit ke Kajang
Aku pun pulang entah kepada apa
Entah kepada siapa